Senin, 15 November 2010

Atas nama politik, 700 wanita diperkosa

Sebuah tragedi kemanusiaan dialami oleh lebih dari 700 wanita dan anak-anak. Mereka diperkosa saat Angola mengusir ribuan orang kembali ke Republik Demokratik Kongo dalam dua bulan terakhir.

Seorang wanita meninggal di rumah sakit karena luka yang diderita dalam serangan seksual.

Menurut sebuah kelompok bantuan yang bekerja di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan seorang pejabat penting PBB membuat seruan yang mendesak penyelidikan atas kasus perkosaan itu.

Diperkirakan, 7.000 orang telah tiba di RD Kongo dalam dua bulan terakhir setelah diusir oleh Angola, yang menuduh mereka merupakan imigran ilegal, menurut hitungan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).

"Kelompok-kelompok kemanusiaan melaporkan 6.621 orang di provinsi Kasai Barat dan 322 orang di daerah Tembo di provinsi Bandundu," menurut pernyataan OCHA.

Lembaga-lembaga swadaya masyarakat adalah pihak pertama yang memperingatkan PBB mengenai pemerkosaan pada 23 Oktober itu.

Menurut beberapa pekerja bantuan, lebih dari 600 orang di Kasai Barat mengaku mengalami tindak kekerasan seksual. Sebuah kelompok khusus telah mengunjungi wilayah itu pekan ini.

Sebuah badan kemanusiaan yang pergi ke Tembo menemukan bahwa 99 wanita dan 15 pria telah menjadi korban kekerasan seksual.

"Seorang wanita meninggal di rumah sakit karena kekerasan itu," ujar Francesco Mazzarelli dari kelompok bantuan Italia, GISP, dalam satu pernyataan.

"Tuduhan pada perlakuan kejam itu perlu diselidiki sebagai masalah yang mendesak," kata Valerie Amos, Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat PBB.

Pada Oktober 2009, kedua negara itu telah mengusir puluhan ribu orang. Banyak dari mereka terdampar di perbatasan tanpa makanan dan perlindungan

Label: